Cerpen 2018 : nasi goreng masakan lokal dan menjadi bisnis

Nasi Goreng
karya : Abdur rahmat


Kepulauan Riau merupakan provinsi baru di Indonesia hasil pemekaran dari provinsi Riau.  Provinsi   Kepulauan   Riau   terbentuk   pada  tanggal   24   September   2002.   Berdasarkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2002 provinsi Kepulauan Riau merupakan provinsi ke-32 di   Indonesia   yang   mencakup   berbagai   kota,   yaitu   :   Kota   Tanungpinang,   Kota   Batam, Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten Kepulauan Anambas
dan Kabupaten Lingga.
Kota Tanjungpinang merupakan ibu kota dari Kepulauan Riau. Kota Tanjungpinang terletak di Pulau Bintan dan beberapa pulau kecil lainnya seperti Pulau Penyengat. Bahasa yang digunakan di Tanjungpinang adalah Bahasa Melayu dan Tanjungpinang sudah menjadi pusat budaya Melayu bersama beberapa negara yang berdekatan dengan Kota Tanjungpinang.
Di Tanjungpinang terdapat beberapa kegiatan yang bisa dilakukan seperti melaut, berternak, dan sebagainya. Dengan begitu kehidupan mereka bisa tercukupi dengan hasil kerja mereka.
Masyarakat   Kota   Tanjungpinang   memiliki   kebiasaan   dan   tradisi   masing-masing. Masyarakatnya   suka   memasak   hal-hal   yang   baru   sehingga   Kota  Tanjungpinang  memiliki kuliner – kuliner khas yang sering dikenal oleh para wisatawan yang berkunjung ke Kota Tanjungpinang.   Kota  Tanjungpinang   memiliki   kuliner   khas   tersendiri   seperti Gong-gong.
Dengan berjalannya waktu Kota Tanjungpinang bisa memiliki kuliner khas yang lain untuk membuat nama Kota Tanjungpinang terkenal dengan kuliner-kuliner yang unik. Peluang bisnis kuliner di Kota Tanjungpinang sangat berjalan dengan lancar karena masyarakat Kota Tanjungpinang suka mencoba kuliner-kuliner yang baru. Kenapa pariwisata selalu   datang   ke   tanjungpinang   untuk   mrncari   masakan   gong-gong?   Karena   hanya   di Tanjungpinanglah   yang   mampu   memasaknya   dan   mampu   menghasilkannya.   Bahkan   di
Tanjungpinang sudah banyak sekali orang bisnis kuliner dan ada juga tiap harinya orang mencoba berbisnis kuliner ini. Maka   dari   itu   peluang   bisnis   kuliner   di   tanjungpinang   sangat   bagus   karena berkembangnya   wisatawan   daerah   dan   perbaikan   di   bandara   beserta   adanya   pelabuhan Internasional di Bintan. Telah membuka pasar kuliner gong-gong menjadi buruan wisatawan manca  negara dan  domestik. Cita rasa gong  - gong  yang begitu memiliki ciri khas unik, membuat nya di rindukan oleh masyarakat sekitar maupun parawisatawan.
Dulunya   gong-gong   hanya   menjadi   makan   laut   (seafood)   namun   dengan perkembangan kuliner dan minat masyarakat terhadap konsumsi gong-gong telah membuat gong-gong berada dimana-mana. Bahkan dengan meningkatnya wisatawan d tanah melayu ini, gong-gong sudah menjadi buah tangan dalam kalangan wisatawan.
Tampak jelas, kuliner gong-gong memilki peluang besar di pasar Kota Tanjungpinang, baik dikalangan masyarakat sekitar maupun parawisatawan. Kuliner ini juga telah mampu menggugah para investor berinvestasi di jajalan maupun oleh-oleh khas gong-gong.Nasi Goreng Dias dan Wisnu adalah kakak-beradik yang tinggal bertiga dengan nenek mereka. Dias baru saja masuk kuliah dan Wisnu baru saja naik ke kelas XII SMK. Nenek mereka berkerja di sebuah rumah mewah di daerah tempat tinggal mereka. Walaupun mereka hanya tinggal bersama nenek mereka, Dias dan Wisnu tetap memiliki cita-cita yang amat tinggi. Mereka selalu rajin dan pantang menyerah.
Tahun ini , Dias bangga karena ia diterima di Universitas Negeri favorit. Wisnu harus mengikuti KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) seperti biasanya sampai ia akan mengikuti UN (Ujian Nasional). Pada masuk kuliah Dias terlebih dahulu mengikuti OSPEK (Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus) seperti tahun ketahunnya dan bisa berkenalan dengan mahasiswa lainnya juga dengan kakak tingkatnya dan program kuliahnya.
Pada hari pertama OSPEK, Kak Dhea salah satu kakak panitia OSPEK memberi pengumuman, “Adik-adik baru yang terhormat, besok ada acara makan bersama. Jadi kalian semua besok harus membawa makanan sendiri-sendiri. Nantinya semau akan saling mencicipi makanan yang kalian bawa”. “Kak, makanannya misalkan apa ya, kak?” Tanya salah seorang mahasiswa , “Oh ya, makanan yang harus dibawa yaitu makanannya yang mengenyangkan buat kalian semua. Kalau tentang harga terserah kalian saja”.
Setelah Kak Aulia pergi, Dias bingung sendiri. Dia akan membawa makanan apa ya yang mengenyangkan? Di rumahnya tidak ada makanan yang mengenyangkan, palingan hanya tahu dan tempe. Di rumah biasanya Dias menambahkan air ke nasi putihnya supaya ada kuah. Itu sudah terasa nikmat sekali. Tapi kalau dia membawa seperti itu makanannya pasti ia akan di ejek sama mahasiswa yang lainnya.
Setiba di rumah, Dias menceritakan tugas yang diberi oleh kakak panitia OSPEKnya bahwa besok harus membawa makanan untuk acara makan bersama.  “Yas, nenek pergi kerja dulu ya. Kamu pikirkan saja apa yang ingin kamu bawa besok ke kampus, tapi yang murah-murah saja ya. Agar nenek bisa membuatnya sendiri tanpa membelinya,” kata Nenek. Namun, sampai nenek pulang kerja, Dias belum menemukan apa yang akan ia bawa besok. Untungnya pada saat ia duduk di pinggir pintu, ia menemukan solusinya. Dias bergegas menemui neneknya. “Neka, bagaimana kalau besok Dias bawa nasi goreng buatan nenek saja? Mudah dan murah bukan?”, ujar Dias. “Benar juga, Yas. Kalau begitu besok pagi kamu bantuin nenek buat nasi goreng untuk kamu bawa ke kampus ya,” kata nenek. Dias merasa iba kepada neneknya karena ia sudah tua tetap bisa kasih yang terbaik buat cucunya.
Paginya, Dias membantu nenek memasak nasi goreng pakai telur mata sapi. Lalu, nasi goreng itu dibungkus dengan kertas nasi sisa membungkus makanan yang kemarin. “Terima kasih ya, Nek. Dias sayang nenek, Dias berangkas ke kampus dulu ya,” pamit Dias kepada neneknya sambil menciumnya.
Dengan senang dia membawa sepeda motor menuju ke kampus. Beberpa saat kemudian, Dias sudah berada di dalam halaman kampus. Setelah beberapa saat belalu, akhirnya tibalah acara yang dinanti-nanti semua mahasiswa yaitu acara makan bersama. “Adik-adik semuanya, sudah bawa makanan semuakan?,” tanya kakak senior. “Sudah, kak”, jawab para mahasiswa serentak. Makanan yang dibawa mahasiswa lalu dikeluarkan dari dalam tas masing-masing, Dias mulai gelisah. Bagaimana jika makanannya tidak enak? Apa mereka akan mencicipi makananku? Dias takut kalau teman-temannya mengejek masakannya.
Akhirnya saat acara makan bersama mulai, Dias merasa makanan Dika. Sedangkan nasi gorengnya hanya dicicipi oleh Dika. Dias tidak langsung mencicipi makanan yang ia bawa. Dia melirik ke arah Gita yang sedang membuka makanan yang ia bawa. Setelah itu, Gita menghampiri Dias “Wahh, ada nasi goreng. Aku suka nasi goreng, keliahatannya enak, bolehkan aku mencicipinya?” tanya Gita. “Tentu saja boleh, silahkan,” jawabnya. “Wahh, enak sekali. Siapa yang memasaknya?” tanya Gita. “Nenekku,” sahut Dias. “Kebetulan, seminggu lagi  ulang tahunku. Aku sedang cari makanan catering. Apa nenekmu  mau menerima  pesanan nasi goreng seperti ini?” Tanya Gita. “Bisa! Tentu saja bisa! Nanti akan aku bicarakan dengan nenekku,” sahut Dias senang. Doman dan Evan  mendekati Dias. “Oh, ini ya nasi gorengnya! Boleh kucoba?” kata Doman sambil menyendok sedikit nasi goreng. “Wahh, enak sekali! Ayahku kan kerja di kantor. Kebetulan ayahku sedang  bingung mencari catering untuk makan siang di kantornya! Ayahku pasti senang kalau bisa memesan nasi goreng seperti ini,” kata Doman.  “ Oh tentu saja bisa!” jawab Dias.
Kabar ini cepat menyebar. Sampai istirahat kedua, saat Dias jalan di kantin, ibu penjual di kantin bertanya. “ Kamu Dias, ya?” tanyanya. “Iya, ada apa bu?” tanya Dias heran. “Begini, ibu mau pesan nasi goreng buatan nenekmu yang katanya enak itu. Kalau bisa, lusa ibu pesan  tiga puluh bungkus dulu. Kalau laris nanti ibu akan pesan lebih banyak lagi!”

“Oh, ya? Baiklah, nanti saya tanyakan ke nenek saya!” jawab Dias senang. Sampai di rumah , berlari-lari mendekati neneknya yang sedang memasak dan ia menceritakan tentang pesanan nasi goreng yang diterimanya tadi. Mereka sangat bersyukur atas berkat Tuhan hari yang diberikan kepada mereka.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cerpen 2018 : nasi goreng masakan lokal dan menjadi bisnis"