Nasi
Goreng
karya : Abdur rahmat
Kepulauan Riau merupakan provinsi baru di Indonesia
hasil pemekaran dari provinsi Riau.
Provinsi Kepulauan Riau
terbentuk pada tanggal
24 September 2002.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2002 provinsi Kepulauan Riau
merupakan provinsi ke-32 di
Indonesia yang mencakup
berbagai kota, yaitu
: Kota Tanungpinang, Kota
Batam, Kabupaten Bintan, Kabupaten Karimun, Kabupaten Natuna, Kabupaten
Kepulauan Anambas
dan Kabupaten Lingga.
Kota Tanjungpinang merupakan ibu kota dari Kepulauan
Riau. Kota Tanjungpinang terletak di Pulau Bintan dan beberapa pulau kecil
lainnya seperti Pulau Penyengat. Bahasa yang digunakan di Tanjungpinang adalah
Bahasa Melayu dan Tanjungpinang sudah menjadi pusat budaya Melayu bersama
beberapa negara yang berdekatan dengan Kota Tanjungpinang.
Di Tanjungpinang terdapat beberapa kegiatan yang bisa
dilakukan seperti melaut, berternak, dan sebagainya. Dengan begitu kehidupan
mereka bisa tercukupi dengan hasil kerja mereka.
Masyarakat
Kota Tanjungpinang memiliki
kebiasaan dan tradisi
masing-masing. Masyarakatnya
suka memasak hal-hal
yang baru sehingga
Kota Tanjungpinang memiliki kuliner – kuliner khas yang sering
dikenal oleh para wisatawan yang berkunjung ke Kota Tanjungpinang. Kota
Tanjungpinang memiliki kuliner
khas tersendiri seperti Gong-gong.
Dengan berjalannya waktu Kota Tanjungpinang bisa
memiliki kuliner khas yang lain untuk membuat nama Kota Tanjungpinang terkenal
dengan kuliner-kuliner yang unik. Peluang bisnis kuliner di Kota Tanjungpinang
sangat berjalan dengan lancar karena masyarakat Kota Tanjungpinang suka mencoba
kuliner-kuliner yang baru. Kenapa pariwisata selalu datang
ke tanjungpinang untuk
mrncari masakan gong-gong?
Karena hanya di Tanjungpinanglah yang
mampu memasaknya dan
mampu menghasilkannya. Bahkan
di
Tanjungpinang sudah banyak sekali orang bisnis kuliner dan ada juga tiap
harinya orang mencoba berbisnis kuliner ini. Maka dari
itu peluang bisnis
kuliner di tanjungpinang sangat
bagus karena berkembangnya wisatawan
daerah dan perbaikan
di bandara beserta
adanya pelabuhan Internasional
di Bintan. Telah membuka pasar kuliner gong-gong menjadi buruan wisatawan manca negara dan
domestik. Cita rasa gong -
gong yang begitu memiliki ciri khas
unik, membuat nya di rindukan oleh masyarakat sekitar maupun parawisatawan.
Dulunya
gong-gong hanya menjadi
makan laut (seafood)
namun dengan perkembangan
kuliner dan minat masyarakat terhadap konsumsi gong-gong telah membuat gong-gong
berada dimana-mana. Bahkan dengan meningkatnya wisatawan d tanah melayu ini,
gong-gong sudah menjadi buah tangan dalam kalangan wisatawan.
Tampak jelas, kuliner gong-gong memilki peluang besar
di pasar Kota Tanjungpinang, baik dikalangan masyarakat sekitar maupun
parawisatawan. Kuliner ini juga telah mampu menggugah para investor
berinvestasi di jajalan maupun oleh-oleh khas gong-gong.Nasi
Goreng Dias dan Wisnu adalah kakak-beradik yang tinggal bertiga dengan nenek
mereka. Dias baru saja masuk kuliah dan Wisnu baru saja naik ke kelas XII SMK.
Nenek mereka berkerja di sebuah rumah mewah di daerah tempat tinggal mereka.
Walaupun mereka hanya tinggal bersama nenek mereka, Dias dan Wisnu tetap
memiliki cita-cita yang amat tinggi. Mereka selalu rajin dan pantang menyerah.
Tahun ini , Dias
bangga karena ia diterima di Universitas Negeri favorit. Wisnu harus mengikuti
KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) seperti biasanya sampai ia akan mengikuti UN
(Ujian Nasional). Pada masuk kuliah Dias terlebih dahulu mengikuti OSPEK (Orientasi
Studi dan Pengenalan Kampus) seperti tahun ketahunnya dan bisa berkenalan
dengan mahasiswa lainnya juga dengan kakak tingkatnya dan program kuliahnya.
Pada hari pertama
OSPEK, Kak Dhea salah satu kakak panitia OSPEK memberi pengumuman, “Adik-adik
baru yang terhormat, besok ada acara makan bersama. Jadi kalian semua besok
harus membawa makanan sendiri-sendiri. Nantinya semau akan saling mencicipi
makanan yang kalian bawa”. “Kak, makanannya misalkan apa ya, kak?” Tanya salah
seorang mahasiswa , “Oh ya, makanan yang harus dibawa yaitu makanannya yang
mengenyangkan buat kalian semua. Kalau tentang harga terserah kalian saja”.
Setelah Kak Aulia
pergi, Dias bingung sendiri. Dia akan membawa makanan apa ya yang
mengenyangkan? Di rumahnya tidak ada makanan yang mengenyangkan, palingan hanya
tahu dan tempe. Di rumah biasanya Dias menambahkan air ke nasi putihnya supaya
ada kuah. Itu sudah terasa nikmat sekali. Tapi kalau dia membawa seperti itu
makanannya pasti ia akan di ejek sama mahasiswa yang lainnya.
Setiba di rumah,
Dias menceritakan tugas yang diberi oleh kakak panitia OSPEKnya bahwa besok
harus membawa makanan untuk acara makan bersama. “Yas, nenek pergi kerja dulu ya. Kamu
pikirkan saja apa yang ingin kamu bawa besok ke kampus, tapi yang murah-murah
saja ya. Agar nenek bisa membuatnya sendiri tanpa membelinya,” kata Nenek.
Namun, sampai nenek pulang kerja, Dias belum menemukan apa yang akan ia bawa
besok. Untungnya pada saat ia duduk di pinggir pintu, ia menemukan solusinya.
Dias bergegas menemui neneknya. “Neka, bagaimana kalau besok Dias bawa nasi
goreng buatan nenek saja? Mudah dan murah bukan?”, ujar Dias. “Benar juga, Yas.
Kalau begitu besok pagi kamu bantuin nenek buat nasi goreng untuk kamu bawa ke
kampus ya,” kata nenek. Dias merasa iba kepada neneknya karena ia sudah tua
tetap bisa kasih yang terbaik buat cucunya.
Paginya, Dias
membantu nenek memasak nasi goreng pakai telur mata sapi. Lalu, nasi goreng itu
dibungkus dengan kertas nasi sisa membungkus makanan yang kemarin. “Terima
kasih ya, Nek. Dias sayang nenek, Dias berangkas ke kampus dulu ya,” pamit Dias
kepada neneknya sambil menciumnya.
Dengan senang dia
membawa sepeda motor menuju ke kampus. Beberpa saat kemudian, Dias sudah berada
di dalam halaman kampus. Setelah beberapa saat belalu, akhirnya tibalah acara
yang dinanti-nanti semua mahasiswa yaitu acara makan bersama. “Adik-adik
semuanya, sudah bawa makanan semuakan?,” tanya kakak senior. “Sudah, kak”,
jawab para mahasiswa serentak. Makanan yang dibawa mahasiswa lalu dikeluarkan
dari dalam tas masing-masing, Dias mulai gelisah. Bagaimana jika makanannya
tidak enak? Apa mereka akan mencicipi makananku? Dias takut kalau
teman-temannya mengejek masakannya.
Akhirnya saat
acara makan bersama mulai, Dias merasa makanan Dika. Sedangkan nasi gorengnya
hanya dicicipi oleh Dika. Dias tidak langsung mencicipi makanan yang ia bawa.
Dia melirik ke arah Gita yang sedang membuka makanan yang ia bawa. Setelah itu,
Gita menghampiri Dias “Wahh, ada nasi goreng. Aku suka nasi goreng,
keliahatannya enak, bolehkan aku mencicipinya?” tanya Gita. “Tentu saja boleh,
silahkan,” jawabnya. “Wahh, enak sekali. Siapa yang memasaknya?” tanya Gita.
“Nenekku,” sahut Dias. “Kebetulan,
seminggu lagi ulang tahunku. Aku sedang
cari makanan catering. Apa nenekmu mau
menerima pesanan nasi goreng seperti ini?” Tanya Gita. “Bisa! Tentu
saja bisa! Nanti akan aku bicarakan dengan nenekku,” sahut Dias senang. Doman
dan Evan mendekati Dias. “Oh, ini ya
nasi gorengnya! Boleh kucoba?” kata Doman sambil menyendok sedikit nasi goreng.
“Wahh, enak sekali! Ayahku kan kerja di kantor. Kebetulan ayahku
sedang bingung mencari catering untuk makan siang di kantornya!
Ayahku pasti senang kalau bisa memesan nasi goreng seperti ini,” kata
Doman. “ Oh tentu saja bisa!” jawab
Dias.
Kabar ini cepat menyebar. Sampai istirahat kedua, saat Dias jalan di
kantin, ibu penjual di kantin bertanya. “ Kamu Dias, ya?” tanyanya. “Iya, ada
apa bu?” tanya Dias heran. “Begini, ibu mau pesan nasi goreng buatan nenekmu
yang katanya enak itu. Kalau bisa, lusa ibu pesan tiga puluh bungkus
dulu. Kalau laris nanti ibu akan pesan lebih banyak lagi!”
“Oh, ya? Baiklah, nanti saya tanyakan ke nenek saya!” jawab Dias senang.
Sampai di rumah , berlari-lari mendekati neneknya yang sedang memasak dan ia
menceritakan tentang pesanan nasi goreng yang diterimanya tadi. Mereka sangat
bersyukur atas berkat Tuhan hari yang diberikan kepada mereka.

0 Response to "Cerpen 2018 : nasi goreng masakan lokal dan menjadi bisnis"
Post a Comment